Rabu, 18 September 2013

Modifikasi: Bohlam H4 bersoket H6


Ini tutorial modifikasi bohlam H4 yang menggunakan soket H6
Jadi, buat motor bebek/matic yang headlamp-nya masih bersoket H6 tapi pengen aplikasi halogen H4 di motornya, bisa coba cara ini.
————
Pertama, tentu siapin bohlam H4 yang mau digunakan …
gb1. Bohlam H6 (kiri) & bohlam H4 (kanan)
Cabut bohlam H4 dari rumahannya … caranya? Hancurin rumahannya. Tp inget, jangan sampai bohlamnya ikutan hancur :D
gb2. Bongkar bohlam H4 dari rumahannya
gb3. Bohlam H4 sudah terlepas dari rumahannya
Kalo sudah, sekarang giliran bohlam H6 yang dihancurin. Tapi kali ini hancurin bohlamnya, karena yang mau kita pakai adalah rumahannya …
Inget, bohlam ini bisa mengandung tekanan gas. Memecahkan bohlam secara terbuka bisa saja bikin serpihan kaca muncrat ke mana-mana. Cara yang lebih aman, bungkus bohlam dengan kain, dan pecahkan di dalam kain.
gb4. Bohlam H6 diambil rumahannya doang
Selanjutnya, pasang bohlam H4 ke dalam rumahan H6 …
gb5. Bohlam H4 dipaksa masuk ke rumahan H6
Rapikan ujung-ujung rumahan H6 hingga bohlam terjepit sempurna … biar nggak copot kalo melibas jalan bergelombang & lubang jalan :D
gb6. Hasil akhirnya seperti ini
Selesai … seka bohlam tersebut dengan tisu + alkohol. Ini untuk menghilangkan bekas sidik jari dan lapisan lemak/minyak di kaca bohlam. Kalo enggak, bohlam akan mudah putus :D
Selanjutkan tinggal dipasang lagi ke headlamp … tapi inget, kaca bohlam jangan tersentuh tangan/jari :D
Hasilnya, hi-beam tetep sama seperti standar H6. Cuma lo-beam rada maju ke depan. Dan tentu aja terang. Yup, karena bohlam H4 punya spek 50~60W, jauh lebih tinggi dibanding H6 yang punya spek 35W.

“Pass Beam” Tanpa Nambah Saklar


Pass beam” atau “hi-pass beam” adalah menyalakan lampu jauh sesaat atau beberapa kali sebagai tanda “minta perhatian” untuk diberikan prioritas menyalip, mendahului, atau memotong kendaraan yang ada di depan. Kadang juga sebagai tanda “tegur sapa” kendaraan lawan arah :D Kalo bahasa kampungnya: “nge-dim” … hihihi :D
Tapi gak semua motor punya fasilitas ini … Gak semua motor dilengkapi tombol/saklar “pass-beam”. Jadi musti modifikasi dikit dengan memasang tombol/saklar “pass-beam”.
Tapi ada juga yang minta, “Bisa gak pake saklar LO/HI bawaan? Gak usah nambah saklar sendiri?” … Bisa! :D
Materialnya: sebutir relay 12V 4-kaki (ukuran minimum 5A), soket relay, dan kabel beserta isolator kabel secukupnya …
Maaf, saya gak tau harus ngasih nama apa untuk skema ini :D
Skema "hi-pass beam"
Skema “hi-pass beam” — kontak relay sebenarnya C-NO, bukan C-NC seperti pada gambar
Sistem kerjanya, relay gak aktif ketika headlamp dalam kondisi OFF. Kontak relay pada posisi C-NC. Jalur lampu jauh mendapat suplai dari input saklar OFF/ON headlamp. Dengan nge-klik saklar LO/HI ke posisi “HI”, lampu jauh menyala.
Pada saat headlamp dinyalakan, relay aktif dan posisi kontak relay berpindah ke C-NO, membuat saklar LO/HI kembali ke fungsi standar.

Fullwaving Suzuki Skywave



Ini stator punya Suzuki Skywave …
Marking merah = ground tab
Proses modifikasinya sama kayak Suzuki Shogun NR di halaman sebelah …

Fullwaving Honda Supra X 125 & Karisma

Modifikasi fullwave di Honda Supra X 125 (HSX125) dan Karisma lebih gampang … nggak ada jalur spul lampu … cuma 2 tap solder di stator … satu tuk jalur charging dan satu lagi tuk grounding. Identifikasinya gampang … tab ground ada kabel hijau tersolder di situ — kabel hijau di Honda artinya jalur GROUND :D — Jadi, kawat spul yang tersolder di tab itu, pasti “ground spul” …
Stator Honda Supra X 125
Stator Honda Karisma juga mirip-mirip …
Stator Honda Karisma (maaf fotonya burem)
Modifikasinya masih tetap sama … kawat spul yang nempel di ground/bodi (A) harus dicabut dari tab ground … trus disambung ke kabel tambahan untuk dijadikan input AC ke regulator fullwave, sama seperti kabel putih pada stator.
Langkah selanjutnya sama seperti modifikasi fullwave di motor-motor lainnya …
Ganti regulator bawaan motor dengan regulator fullwave, misal, regulator Honda Tiger …
Pindah-pindah sedikit jalur-jalur kabelnya (bisa lihat di artikel “Fullwave: Instalasi Regulator Honda Tiger“).
Ntar saya lengkapi lagi skemanya … kalo sempat :D
Wasalam

Fullwaving Kawasaki Ninja RR & 150L/M/N

Bismillaah …
Setelah sekian lama meditasi di kaskus — cari-cari info & bahan biar lebih yakin, hehehe — sekarang saya launching artikel “Modifikasi kelistrikan fullwave Ninja RR” … doooohhh :D
Awalnya artikel ini dibuat, saya sendiri blom pernah modip Ninja RR secara langsung, tapi saya yakin cara ini benar & berfungsi dengan baik … 1000% :D
Dan sekarang, udah ada calon korban … hehehe :D
Calon korban modifikasi fullwave :)
Oke … langsung aja …
Setelah bahan dan material terkumpul — regulator fullwave 1-phase (di artikel ini saya pake regulator Honda Tiger), beserta soketnya (tipe soket 6-pin baring — bisa dibeli di toko onderdil/kelistrikan mobil), kabel secukupnya, selang bakar (heat-shrink tube — banyak dijual meteran di toko-toko elektronika/listrik), solder + timah, multimeter (rekomendasi yang model digital), juga perkakas buat bongkar-bongkar motor … saatnya mulai beraksi!
Tapi sebelum mulai modifikasi, sebaiknya cabut kabel-kabel yang terpasang pada terminal aki untuk menghindari resiko konslet apabila jalur “+” aki nggak sengaja terhubung dengan bodi/massa/rangka/ground …
——-
Posisi stator ada di balik bak mesin kiri. Kondisinya kering, alias nggak terendam oli. Jadi nggak perlu nguras oli dulu :D
Buka bak mesin kiri, kamu bakal langsung nemu “stator” di balik bak mesin …
gb2. Flywheel Magnet Ninja RR
gb3. Stator original Ninja RR
Perhatikan statornya … ada 3 tab solder di sana: LAMP, CHARGING, dan GROUND …
Syarat kelistrikan fullwave tetap sama … kawat spul/stator TIDAK BOLEH terhubung dengan ground (floated).
Jadi, sebagai langkah pertama, cabut kawat spul yang ada di tab GROUND.
gb4. kawat spul dilepas dari tab Ground
Selanjutnya ambil kabel baru, serabut, minimal sebesar kabel spul — lebih bagus lagi seukuran 16AWG — dan sepanjang kira-kira 1 meter lebih) dan sambungkan/solder dengan ujung kawat yang telah dilepas tadi …
gb5. Ujung kawat disambung kabel baru
Jangan lupa tutup sambungan tadi dengan selang bakar (heat shrink tube) agar nggak mudah konslet ke mana-mana. Nah, jalur kabel baru ini bakal difungsikan sebagai jalur pengisian (charging) kedua. Sementara jalur pertama tetap jalur kabel pink yang ada (yang tersolder di tab Charging).
FYI, setelah modifikasi ini, jalur lampu sudah nggak digunakan lagi. Kamu bisa mencabutnya dari soket spul dan mengisolasi ujung kabelnya agar nggak musah konslet dengan jalur lain maupun rangka/ground (maaf, saya lupa jepret fotonya) :(
Saya pribadi, lebih suka memilih tuk mencabut jalur spul lampu (kabel kuning) dan jalur spul ground (hitam-kuning) dari stator :D  Termasuk jalur spul charging (kabel pink), yang kemudian saya ganti dengan kabel yang sama dengan kabel baru. Jadi nantinya yang terpasang di stator tinggal dua jalur kabel baru (satu di tab Charging dan satu di ujung kawat yang telah dicabut dari tab Ground).
gb6. Stator setelah 'sedikit' modifikasi
Selanjutnya, dengan multimeter digital, set ke mode continuity, ukur kedua ujung kabel baru tersebut. Multimeter harus berbunyi ‘beep’ tanda kedua jalur kabel terhubung sempurna. Kemudian ukur masing-masing ujung jalur kabel tersebut terhadap bodi stator. Multimeter nggak boleh bunyi, artinya kedua jalur tersebut nggak boleh ada yang terhubung dengan ground.
gb7. Mode "continuity" pada multimeter
Lanjut, set multimeter di mode ohm (range terkecil) dan ukur resistansi kedua jalur kabel baru tersebut. Nilai resistansi nggak boleh lebih dari 4 ohm.
Kalo sampai langkah ini nggak ada masalah, rapikan posisi kabel pada stator agar nggak mudah kendur dan tersambar magnet …
Install kembali stator di bak mesin, dan install bak mesin kembali ke motor.
————
Setelah stator & bak mesin terpasang, pasang kembali soket stator. Perhatikan bahwa di soket stator nggak ada lagi kabel dari arah stator, kecuali jalur ground (hitam-kuning). Sedangkan dua jalur baru, rencananya akan terpasang sebagai INPUT di regulator fullwave, seperti skema di bawah ini:
gb8. Modifikasi jalur kabel di soket stator (klik untuk memperbesar)
Lanjut ke penggantian regulator …
Posisi regulator Ninja RR terletak di bawah tangki bagian depan. Jadi harus buka tangki bahan bakar dulu …
gb9. Posisi regulator original Ninja RR
Selapas regulator lama dan lepas kabel-kabel dari soket regulator.
Kemudian pasang regulator baru untuk kelistrikan fullwave. Di artikel ini saya coba menggunakan regulator milik Honda Tiger.
gb10. Regulator Tiger terpasang di Ninja RR
Siapkan soket regulator Honda Tiger beserta skun kabelnya. Soket ini bisa dibeli di toko onderdil mobil. Kemudian instalasi ulang kabel-kabel hasil copotan regulator lama ke soket regulator baru seperti skema di bawah ini. Gunakan skun baru, karena skun lama nggak bisa terkunci di dalam soket baru:
gb11. Instalasi kabel regulator Honda Tiger
Yang dimaksud “output kontak” adalah jalur keluaran kunci kontak. Pada Ninja RR, jalur ini berupa kabel berwarna coklat. Pasang kabel baru yang menghubungkan jalur output kontak dengan jalur lampu yang terpasang di pin#2 regulator Tiger.
Setelah terpasang, lakukan cek “continuity” untuk memastikan kabel-kabel di tiap-tiap pin regulator nggak saling terhubung (kecuali pin #4 dengan #5). Pastikan juga jalur pin#1 regulator terhubung sempurna ke +AKI. Begitu juga jalur pin#3 terhadap ground / -AKI.
Kalo sudah selesai, colok soket ke regulator Tiger dan rapikan kabel-kabelnya …
Pasang kembali kabel suplai aki dan tangki bahan bakar …
————
Sebelum mencoba menyalakan mesin, ukur voltase aki dengan multimeter … dan catat!
Nyalakan kontak & mesin pada posisi langsam/idle dan tanpa menyalakan beban lain (lampu dan klakson) … perhatikan nilai voltase pada multimeter … catat!
Tarik gas secara urut, hingga kira-kira mencapai 3000~5000RPM, dan perhatikan nilai voltase pada multimeter … jika modifikasi dilakukan dengan benar, harusnya tampak ada kenaikan voltase … nggak boleh lebih rendah dari 12.4V dan nggak boleh lebih tinggi dari 16V DC … jangan lupa, catat!
Balik lagi ke kondisi langsam/idle, tapi kali ini dengan menyalakan lampu utama (headlamp) … pada kondisi ini bakal ada penurunan voltase … catat lagi!
Kemudian tarik gas secara urut, hingga kira-kira mencapai 3000~5000RPM … jika modifikasi dilakukan dengan benar, harus ada kenaikan voltase … besarnya, tergantung beban listrik yang menyala … minimal nggak boleh di bawah 12.4V dan nggak boleh melebihi 16V DC (regulator secara otomatis membatasi besaran voltase output).
Beres-beres, dan lakukan test-drive … jika setelah dipakai jalan 1/2 harian aki nggak mengalami gejala tekor dan mesin nggak mengalami “batuk-batuk” pada RPM tinggi … selamat!
Modifikasi fullwave kamu berhasil :D

thx to om dian_bulat untuk referensi foto statornya, juga mbokne.gajah (klonengan om gajah_gendut) & om exc4l1bur73 buat ilmu per-Ninja-annya :D
——-
FYI:
Modifikasi ini berlaku untuk KR150K (Ninja RR), KR 150L/M/N (Ninja R) — karena sistem kelistrikannya sama :)
Info by jintramtam & trit Ninja 150 @ kaskus.us … thx :)  

Fullwaving Honda Supra 100 / Grand / Revo 100 / GL Pro

Masih tentang modip fullwave, kali ini untuk jajaran Honda Supra 100CC (-X & -Fit), Grand, Revo 100, juga GL Pro.
Metodenya masih sama, cabut kawat spul/stator yang nempel di ground/massa/bodi stator dan kemudian disambungkan dengan kabel tambahan untuk dijadikan input ke regulator fullwave.
Ini bagan statornya:


Jangan lupa tutup sambungan tersebut dengan shrink-tube atau selang bakar (banyak di toko-toko elektronika).
Oia, jalur spul lampu (kabel kuning dari spul) dicabut dari soket spul dan diisolasi, karena jalur ini nggak dipakai lagi dan nggak boleh terhubung dengan kabel kuning lain.
Jadi nantinya input ke regulator fullwave cuma dari jalur kabel putih spul dan kabel tambahan.
Kabel-kabel lain, abaikan aja alias jangan diapa-apain :D
Selanjutnya instalasi regulator fullwave, misal regulator Tiger, sama seperti modip-modip fullwave lainnya … atau bisa lanjut ke artikel “Fullwaving: Instalasi Regulator Honda Tiger“

AE ON HID OFF, HID ON AE OFF


Lampu Projector + Angel Eye, kayaknya bukan pasangan langka :D
Hampir setiap retrofit lampu projector di sepeda motor, paling gak dilengkapi ama Angel Eye (AE) — lampu bundar kayak cincin yang menyala di sepinggiran lensa projector. Nyalanya umum ngikutin nyala lampu senja … dan nyala berbarengan lampu projector … Skema instalasinya kira-kira seperti ini:
Graphic1Tapi gimana kalo pengennya AE nyala saat nyalain lampu senja doang dan otomatis padam setiap lampu projector dinyalakan? Simpel :D Manfaatin RELAY 5-kaki … Selanjutnya modifikasi jalurnya seperti skema instalasi di bawah:
Graphic2Gampang kan? :D

Seberapa Efisien Kinerja Ballast HID?

Benar nggak sih ini ballast 50W? Benar nggak sih outputnya real 50W? Ngaruh nggak sih kalo bulb HID 35W dinyalain pakai ballast 50W? Seberapa efisien kinerja ballast HID yang saya punya?
Pertanyaan ini kadang muter-muter di dalam kepala :D
Nah, kenapa nggak diukur aja?
Klik untuk memperbesar
Klik untuk memperbesar
Peralatan ukur seperti pada gambar …
VDC meter untuk mengukur voltase (DC) input ballast
VAC meter untuk mengukur voltase (AC) output ballast
A1 meter untuk mengukur arus (ampere) input ballast
A2 meter untuk mengukur arus (ampere) output ballast
VDC meter
Set multimeter ke range “20VDC”. Probe (tester) merah multimeter terpasang di jalur positif input ballast, sedangkan probe (tester) hitamnya di jalur negatif input ballast. Kabel input ballast adalah kabel dari suplai menuju ballast.
VAC meter
Set multimeter ke range “600V AC”. Probe (tester) merah multimeter terpasang di jalur “hot” output ballast, sedangkan probe (tester) hitamnya di jalur “return” output ballast. Kabel output ballast adalah kabel dari ballast menuju bulb HID. Jalur “hot” adalah jalur yang menuju elektroda bulb, sedangkan jalur “return” adalah yang keluar dari bulb … jalur “return” biasanya berupa kawat berbungkus pipa keramik yang ada di sisi luar bulb HID.
A1 meter
Set multimeter ke range “10A” atau “20A” — biasanya ada colokan khusus untuk range ini (baca manual multimeter). Probe (tester) merah multimeter terpasang di jalur positif suplai, sedangkan probe (tester) hitamnya di jalur positif input ballast. Ini berarti arus listrik akan mengalir dari suplai, melewati multimeter, dan menuju ballast.
A2 meter
Untuk meteran ini, sebaiknya gunakan tang ampere (clamp meter). Tinggal kalungkan aja tang ampere ke jalur “hot” output ballast/bulb HID. Set meteran ke range “Ampere AC”.
Mengukur input ballast
Alat ukur “VDC meter” dan “A1 meter” dalam posisi terpasang.
Nyalakan HID, dan baca hasil meteran … volt DC dan ampere DC. Catat!
Mengukur output ballast
Untuk mengukur volt AC output ballast, sebaiknya TIDAK dilakukan pada saat bulb “start-up”. Pengukuran dilakukan setelah bulb dalam kondisi menyala normal. Kenapa? Karena pada saat “start-up” voltase yang dikeluarkan ballast bisa mencapai 23~24 ribu volt! Kecuali alat ukur Anda bisa membaca dengan range melebihi itu, jangan PERNAH memasang alat ukur pada saat kondisi bulb “start-up”!
Setelah bulb dalam kondisi menyala normal, ukur voltase AC dan amperenya. Catat!
Menghitung input ballast
Daya listrik yang dibutuhkan ballast untuk menyalakan bulb HID bisa dihitung dari hasil bacaan VDC meter dan A1 meter.
Daya input ballast = VDC meter × A1 meter
Daya input ballast: Watt
VDC meter: Volt DC
A1 meter: Ampere
Contoh:
Hasil pengukuran input ballast, terbaca di VDC meter = 13.2VDC dan A1 meter = 4.2A
Daya input ballast = 13.2V × 4.2A = 55.4W
Menghitung output ballast
Daya listrik yang dikeluaran ballast untuk bisa menyalakan bulb HID bisa dihitung dari hasil bacaan VAC meter dan A2 meter.
Daya output ballast = VAC meter × A2 meter
Daya output ballast: Watt
VAC meter: Volt AC
A2 meter: Ampere
Contoh:
Hasil pengukuran output ballast, terbaca di VAC meter = 98.4VAC dan A2 meter = 0.48A
Daya output ballast = 98.4V × 0.48A = 47.3W
Menghitung efisiensi kinerja ballast
Selisih antara daya output dan input ballast menunjukkan seberapa persen tingkat efisiensi kinerja ballast. Ballast dikategorikan efisien jika persentase efisiensi kerjanya 75% ke atas.
Efisiensi kerja ballast = Daya output ballast ÷ Daya input ballast × 100%
Contoh:
Dari hasil ukuran dan hitungan di atas, daya output ballast adalah 47.3W dan daya input ballast adalah 55.4W … maka efisiensi kerja ballast = 47.3W ÷ 55.4W × 100% = 85.37%
Masih termasuk kategori “ballast efisien” :D
Ini contoh pengukuran ballast Hyluxtek 35W + bulb Philips LS 35W 4200K:
Hasil baca arus input ballast
Hasil baca arus input ballast
Hasil baca voltase output ballast
Hasil baca voltase output ballast
Hasil baca arus output ballast
Hasil baca arus output ballast

Pictorial: Instalasi HID/Projector

gb1. Kabel set HID/Projector universal
gb2. Instalasi komplit kabel set universal
gb3. Kabel set double HID/Projector
Untuk reparasi / modifikasi kabel set, bisa referensi ke sini